Bruce Joyce dkk, dalam bukunya “Models of Teaching” edisi ke 8 (2009: 321-338). Menawarkan model pengajaran personal yang disebut dengan “The personal family of Models/ Nondirective Teaching. Model pengajaran personal tersebut juga memiliki beberapa bentuk dalam pelaksanaanya, diantaranya adalah model Team Kelas oleh William Glazer dengan tujuan untuk mengembangkan pemahaman diri dan bertanggungjawab terhadap diri dan kelompok, Sistem Konseptual oleh David Hunt dengan tujuan menambah kesempurnaan dan fleksibilitas pribadi, Latihan Kesadaran oleh William Cehurtz dengan tujuan proses perubahan kemampuan individu dengan penjelajahan terhadap diri sendiri dan kesadaran diri sendiri, dan Sinetic oleh William Gordon dengan tujuan mengembangkan pribadi untuk kreativitas dan memecahkan masalah secara kreatif. Reja Mudyaharjo (2006: 212).
Model pengajaran personal lainnya; model konsiderasi (consideration model), model pembentukan rasional,(rational building model), Klrifikasi nilai (Value clarification model), Pengembangan moral kognitif, dan model nondirektif. Nana Syaodih (2007: 192-194).
Consideration model dimaksudkan untuk mendorong siswa agar lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain. Adapun langkah-langkah pembelajarannya: Menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi; Meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan serta kepentingan orang lain; Siswa menulis responnya masing-masing; Siswa menganalisi respon siswa lain; Mengajak siswa melihat konsekwensi dari tiap tindakannya; Meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.
Rational Building Model bertujuan untuk mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai. Langkah-langkah pembelajarannya; 1. Mengidentifikasi situasi di mana ada ketidak serasian atau penyimpangan tindakan, 2. Menghimpun informasi tambahan, 3. Menganalisi situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atau ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, 4. Mencari alternative tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya, 5. Mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuan-ketentuan legal dalam masyarakat.
Value clarification model bertujuan agar para siswa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga siswa mempunyai ketrampilan proses menilai. Langkah-langkah pembelajaran klarifikasi nilai; 1. Pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternative tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya, 2. Menghargai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat dan mempertegas pilihannya,3. Berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lain.
Pengembangan Moral Kognitive bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif. Langkah-langkah pembelajarannya; 1. Menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilemma moral atau pertentangan nilai, 2. Siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral terntentu,3. Siswa diminta mendiskusikan/menganalisis kebaikan dan kejelekannya, 4. Siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik,5. Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.
Peenggunaan model nondirektif ini bertujuan untuk membantu siswa mengaktualisasikan dirinya. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Sedeangkan langkah-langkah pembelajaran nondirektif ; 1. Memciptakan situasi yang permisif melalui ekspresi bebas, 2. Siswa didorong mengungkapkan perasaan, pikiran dan masalah yang dihadapinya, kemudian guru menerima, menjelaskan dan memberikan klarifikasi, 3. Pengembangan pemahaman, siswa mendiskusikan masalah kemudian guru member dukungan, 4. Perencanaan dan penentuan keputusan,dengan cara siswa menentukan keputusan dan guru mengklarifikasi, 5. Pengintegrasian, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif, guru membantu mengembangkannya.
Menurut Bruce Joyce dkk (2000:287) tujuan model pengajaran pribadi (nondirektif) untuk memfasilitasi belajar para siswa dengan mengorganisasikan lingkungan guna membantu mereka menjadi pribadi yang lebih terintegrasi, efektif, dan penilaian diri yang realistis. Model ini tidak menuntut siswa berubah dalam waktu dekat, namun guru hendaknya membantu mereka memahami kebutuhannya dan nilai-nilainya sendiri sehingga secara efektif mereka dapat mengarahkan keputusan pendidikan mereka sendiri. Pengajaran Pribadi (nondirektif) sebagaimana digambarkan adalah merupakan salah satu model pengajaran yang lebih mengutamakan perkembangan kepribadian siswa. Menurut Dahlan dan kawan-kawan (1990), prinsip-prinsip yang diterapkan dalam model mengajar nondirektif ini mengadopsi dari salah satu pendekatan penyuluhan yaitu Nondirective Counseling Approach. Menurutnya, model ini berangkat dari asumsi bahwa setiap individu memiliki potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Dengan demikian dalam proses belajar mengajar siswa sepenuhnya diberikan kebebasan untuk melaksanakan segala aktivitasnya, sedangkan peran guru lebih kepada fasilitator, reflektor dan guide.
Kegiatan pembelajaran Pribadi (nondirektif) ini berpusat pada kegiatan wawancara yang dilakukan antara guru dan siswa untuk mengungkapkan segala perasaan siswa yang mungkin saja selama ini dipendam. Pendekatan semacam ini lebih tepat terutama untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa secara individu dan melatih mereka memecahkan masalahnya sendiri. Kemandirian siswa diharapkan akan terasah dengan pendekatan ini.
Dalam kaitan dengan pemberian kebebasan kepada siswa dalam pembelajaran model nondirektif ini sama halnya dengan apa yang diungkapkan oleh Peter Senge dalam bukunya School That Learn (2002), yang mengatakan bahwa sesungguhnya pada diri anak tidak ada aturan dan anak tidak pernah salah. Menurut Senge, dalam melaksanakan tugasnya, anak tidak boleh karena paksaan tetapi karena memang senang melakukannya. Lebih jauh, pandangan Senge yang sesuai untuk pengajaran nondirektif ini adalah pendekatan dengan siswa melalui dialog atau wawancara. Wawancara dengan menggunakan bahasa sederhana dipandang efektif untuk mengungkapkan perasaan siswa dan permasalahan yang dihadapinya.
Peran guru dalam pembelajaran nondirektif ini adalah memfasilitasi agar terjadi proses pembelajaran. Penciptaan situasi yang kondusif dan permisif dalam proses pembelajaran, menurut Nana Syaodih (2005), mendorong siswa untuk mencari dan mengembangkan pemecahan masalah yang dihadapinya secara mandiri. Tokoh lain yang memberikan kebebasan kepada anak adalah Jean Jacques Rousseau. Ia berpendapat bahwa anak harus dibebaskan dari aturan-aturan dan hal terbaik yang harus dilakukan para orang tua dan guru adalah membiarkan anak mencapai minat dan kebutuhannya secara wajar.
Artikel Terkait Kurikulum dan Pembelajaran
- Bagaimana Mengelola KBM (bagian 1)
- KURIKULUM (Sebuah Telaah Teoritis)
- Pembiasaan Dalam Pola Penanaman Nilai
- Pendidikan Karakter Di Sekolah
- Model Pembelajaran Pribadi
- Kerja Kelompok (bagian 2)
- Kerja Kelompok (bagian 1)
- Prinsip Penggunaan Metode Pembelajaran
- Perbedaan Pendekatan, Model, Strategi, Metode dan Teknik Pembelajaran
- Mewujudkan PAIKEM
- Kerja Kelompok Dalam Pembelajaran
- Proses Pelaksanaan Evaluasi
- Penggunaan Metode Simulasi Dalam Pembelajaran
- Program Remidial dan Pengayaan
- Konsep Mastery Learning