Dua landasan belajar tuntas, yakni (1) semua atau hampir semua siswa dapat menguasai apa yang diajarkan kepadanya bila pengajaran dilakukan secara sistematis, (2) tingkat keberhasilan siswa di sekolah ditentukan oleh kemampuan bawaan yang dimiliki masing-masing. Carroll dalam Ali(1983:98) menyatakan bahwa bakat pada intinya bukanlah merupakan indeks dari tingkat kemampuan atau tingkat penguasaan yang dapat dipelajari siswa, melainkan ukuran kecepatan belajar; yakni sejumlah waktu yang diperlukan untuk belajar sampai pada suatu tingkat penguasaan tertentu dalam kondisi ideal. Selanjutnya Gronlund dalam Ali (1983:98) menyatakan bahwa untuk dapat mencapai hasil pembelajaran yang ideal tergantung pada tiga faktor yakni, 1) kejelasan pelajaran, 2) kebaikan urutan (sekuens) bahan, dan 3) keefektifan tes yang digunakan sebagai landasan catu balik atau feed back. Suhubungan dengan keberhasilan belajar, prestasi yang dicapai oleh siswa selain dipengaruhi oleh bakat, juga dipengaruhi oleh kesempatan belajar, kemampuan memahami pelajaran dan kualitas pengajaran. Bila pengajaran dilakukan menyediakan waktu yang cukup, maka hasil belajar seluruh atau hampir seluruh siswa dapat mencapai penguasaan penuh. Menurut Carroll, derajat tingkat pelajaran yang dicapai oleh siswa merupakan suatu fungsi waktu yang mengijinkan, ketekunan dari siswa, mutu pengajaran, kemampuan siswa untuk memahami pengajaran, dan kecerdasannya. Masalah di dalam pelaksanaan pengajaran memutuskan bagaimana cara mengorganisir kurikulum dan kelas sedemikian rupa, sehingga para siswa akan mempunyai waktu optimal, bermanfaat dari pengajaran yang baik, melalui ketekunan, dan menerima bantuan di dalam memahami pelajaran dan tugas.
Bloom mengubah pendangan Carroll ke dalam sebuah sistem dengan karakteristik sebagai berikut : penguasaan diidentifikasi dalam istilah yang menggambarkan tujuan utama dalam pembelajaran; Substansi dari pada bagian yang lebih besar dibagi dalam unit terkecil yang akan dipelajari; materi pelajaran diidentifikasi dan dipilih strategi pengajaran yang sesuai; Setiap unit disertai dengan test diagnostik untuk mengukur kemajuan perkembangan siswa (evaluasi formatif) dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi masingmasing siswa. Kemajuan pengetahuan diumpan-balikkan kepada para siswa untuk sebagai penguatan; Hasil tes digunakan untuk memberikan pengajaran pengayaan dan remidial. (Bloom, 1971, p 47-63). Belajar tuntas menuntut pembelajaran individual. Siswa bekerja bebas dengan bahan ajar yang diberikan setiap hari (setiap beberapa hari), tergantung pada kemampuan dan gaya belajarnya. Jika pengajaran diatur dengan cara ini, Bloom percaya, waktu untuk belajar dapat disesuaikan dengan kecerdasan masing-masing siswa. Para siswa yang cerdas diberikan waktu untuk umpan balik terhadap kemajuan, semua dimonitor dengan bantuan tes.
Karakteristik pembelajaran tuntas, yakni: Siswa dapat mencapai ketuntasan belajar jika belajar dilakukan secara optimal; Dapat meramalkan tingkat penguasaan dan waktu yang dibutuhkan terhadap suatu bahan yang dipelajari; Hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya. Dalam kenyataannya waktu yang dibutuhkan dipengaruhi oleh karakteristik siswa dan karakteristik pengajaran; Siswa mencapai tingkat mastering dengan diberi kesempatan dan kualitas pengajaran yang berdiferensiasi; Pelajaran dipecah, yakni dengan memecah pelajaran dalam unit-unit kecil untuk jangka waktu satu atau dua minggu.
Artikel Terkait Kurikulum dan Pembelajaran
- Bagaimana Mengelola KBM (bagian 1)
- KURIKULUM (Sebuah Telaah Teoritis)
- Pembiasaan Dalam Pola Penanaman Nilai
- Pendidikan Karakter Di Sekolah
- Model Pembelajaran Pribadi
- Kerja Kelompok (bagian 2)
- Kerja Kelompok (bagian 1)
- Prinsip Penggunaan Metode Pembelajaran
- Perbedaan Pendekatan, Model, Strategi, Metode dan Teknik Pembelajaran
- Mewujudkan PAIKEM
- Kerja Kelompok Dalam Pembelajaran
- Proses Pelaksanaan Evaluasi
- Penggunaan Metode Simulasi Dalam Pembelajaran
- Program Remidial dan Pengayaan
- Konsep Mastery Learning