Pembiasaan adalah salah satu elemen
dalam menanamkan nilai-nilai baik kepada peserta didik. Secara terminologis
kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa
direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi. Juga dalam Oxford advanced learner’s
Pocket Dictionary, kebiasaan
(habit) is thing that
you often and almost without thinking. Oleh
karena itu, pembiasaan berintikan pengalaman, hal yang dibiasakan itu ialah
sesuatu yang diamalkan. Jadi, dari tinjauan bahasa pembiasaan merupakan
tindakan seseorang yang sering dilakukan atau berulang-ulang. inti pembiasaan ialah pengulangan.
Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah diartikan
sebagai usaha pembiasaan. Bila murid masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka
guru mengingatkan agar bila masuk ruangan hendaklah mengucapkan salam, ini juga
satu cara membiasakan. Dengan demikian hendaklah karakter baik itu dibiasakan
oleh guru di sekolah dengan cara melakukan berulang-ulang. Berawal dari pembiasaan, peserta didik
membiasakan dirinya melakukan sesuatu yang lebih baik. Menumbuhkan kebiasaan
yang baik ini tidaklah mudah, akan memakan waktu yang panjang. Tetapi bila
sudah menjadi kebiasaan, akan sulit pula untuk berubah dari kebiasaan tersebut.
Kebiasaan adalah bentuk tingkah laku yang tetap dari usaha
menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang mengandung unsur afektif perasaan.
Kebiasaan itu ditentukan oleh lingkungan sosial dan kebudayaan, dan dikembangkan
sejak lahir. Kebiasaan-kebiasaan mendapatkan bentuk-bentuknya yang tetap
berkat ulangan-ulangan yang sukses, dapat dipahami kebiasaan yang
dilakukan seseorang didorong oleh unsur afeksi atau perasaan serta dipengaruhi
oleh lingkungan sosial dan budaya. Dan yang paling penting bahwa kebiasaan itu
dilakukan secara berulang-ulang atau sering dilaksanakan. Pada awal
pembentukannya kebiasaan ini masih disadari, dan disetir oleh otak juga
berlangsung pula pertimbangan akal di dalamnya, yang menjadi semakin berkurang,
dan kesadaran jadi semakin menipis, lalu kebiasaan jadi otomatis dan tidak
disadari lagi, misalnya berjalan, naik sepeda dan lain-lain. Namun
sewaktu-waktu pertimbangan akal ini bisa ditimbulkan kembali, khususnya apabila
diperlukan untuk pengubahan atau penggantian kebiasaan yang buruk dengan
kebiasaan yang baik.
Agar metode pembiasaan ini berjalan
secara efektif maka yang harus dilakukan adalah: Memulai pembiasaan itu sebelum
terlambat, Usia sejak bayi dinilai waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan
kedekatan ini, karena setiap anak mempunyai rekaman yang cukup kuat dalam
menerima pengaruh lingkungan sekitarnya dan secara langsung akan dapat
membentuk kepribadian seorang anak dan sebuah pembiasaan yang pada mulanya
hanya bersifat mekanistis, hendaknya secara berangsur-angsur diubah menjadi
kebiasaan yang tidak verbalistik dan menjadi kebiasaan yang disertai dengan
kata hati anak didik itu sendiri.
Artikel Terkait Kurikulum dan Pembelajaran
- Model Pembelajaran Pribadi
- Kerja Kelompok (bagian 2)
- Kerja Kelompok (bagian 1)
- Prinsip Penggunaan Metode Pembelajaran
- Perbedaan Pendekatan, Model, Strategi, Metode dan Teknik Pembelajaran
- Mewujudkan PAIKEM
- Kerja Kelompok Dalam Pembelajaran
- Proses Pelaksanaan Evaluasi
- Penggunaan Metode Simulasi Dalam Pembelajaran
- Program Remidial dan Pengayaan
- Konsep Mastery Learning
- Bagaimana Mengelola KBM (bagian 1)
- KURIKULUM (Sebuah Telaah Teoritis)
- Pembiasaan Dalam Pola Penanaman Nilai
- Pendidikan Karakter Di Sekolah