Minggu, 12 Mei 2013

Pembiasaan Dalam Pola Penanaman Nilai


Pembiasaan adalah salah satu elemen dalam menanamkan nilai-nilai baik kepada peserta didik. Secara terminologis kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi. Juga dalam  Oxford advanced learner’s Pocket Dictionary, kebiasaan (habit) is thing that you often and almost without thinking. Oleh karena itu, pembiasaan berintikan pengalaman, hal yang dibiasakan itu ialah sesuatu yang diamalkan. Jadi, dari tinjauan bahasa pembiasaan merupakan tindakan seseorang yang sering dilakukan atau berulang-ulang. inti pembiasaan ialah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah  diartikan sebagai usaha pembiasaan. Bila murid masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka guru mengingatkan agar bila masuk ruangan hendaklah mengucapkan salam, ini juga satu cara membiasakan. Dengan demikian hendaklah karakter baik itu dibiasakan oleh guru di sekolah dengan cara melakukan berulang-ulang. Berawal dari pembiasaan, peserta didik membiasakan dirinya melakukan sesuatu yang lebih baik. Menumbuhkan kebiasaan yang baik ini tidaklah mudah, akan memakan waktu yang panjang. Tetapi bila sudah menjadi kebiasaan, akan sulit pula untuk berubah dari kebiasaan tersebut.
Kebiasaan adalah bentuk tingkah laku yang tetap dari usaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang mengandung unsur afektif perasaan. Kebiasaan itu ditentukan oleh lingkungan sosial dan kebudayaan, dan dikembangkan sejak lahir. Kebiasaan-kebiasaan mendapatkan bentuk-bentuknya yang tetap  berkat ulangan-ulangan yang sukses,  dapat dipahami kebiasaan yang dilakukan seseorang didorong oleh unsur afeksi atau perasaan serta dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya. Dan yang paling penting bahwa kebiasaan itu dilakukan secara berulang-ulang atau sering dilaksanakan. Pada awal pembentukannya kebiasaan ini  masih disadari, dan disetir oleh otak juga berlangsung pula pertimbangan akal di dalamnya, yang menjadi semakin berkurang, dan kesadaran jadi semakin menipis, lalu kebiasaan jadi otomatis dan tidak disadari lagi, misalnya berjalan, naik sepeda dan lain-lain. Namun sewaktu-waktu pertimbangan akal ini bisa ditimbulkan kembali, khususnya apabila diperlukan untuk pengubahan atau penggantian kebiasaan yang buruk dengan kebiasaan yang baik.
Agar metode pembiasaan ini berjalan secara efektif maka yang harus dilakukan adalah: Memulai pembiasaan itu sebelum terlambat, Usia sejak bayi dinilai waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan kedekatan ini, karena setiap anak mempunyai rekaman yang cukup kuat dalam menerima pengaruh lingkungan sekitarnya dan secara langsung akan dapat membentuk kepribadian seorang anak dan sebuah pembiasaan yang pada mulanya hanya bersifat mekanistis, hendaknya secara berangsur-angsur diubah menjadi kebiasaan yang tidak verbalistik dan menjadi kebiasaan yang disertai dengan kata hati anak didik itu sendiri.

Artikel Terkait Kurikulum dan Pembelajaran

Komentar Postingan